“Pemikiran menghasilkan tindakan, tindakan membentuk kebiasaan, kebiasaan menentukan karakter dan karakter menciptakan nasib” -Aristoteles
Socrates, Plato dan Aristoteles menilai bahwa retorika dan puisi sering kali disalahgunakan sebagai alat untuk memanipulasi individu, baik melalui pengelabuan fakta maupun manipulasi emosi. Mereka mengkritik para sofis, termasuk Gorgias dan Isocrates, yang dianggap mengandalkan teknik manipulatif dalam penggunaan retorika mereka. Sebaliknya, para filsuf berpendapat bahwa retorika seharusnya didasarkan pada prinsip filsafat yang bertujuan untuk memberi pencerahan dan mendalami kebenaran. Aristoteles dalam pemikirannya, memberikan kontribusi besar dengan menjadikan retorika sebagai salah satu dari tiga komponen utama dalam filsafat, bersama dengan logika dan dialektika.
Aristoteles tidak hanya memberikan dasar penting dalam memahami retorika, tetapi juga menjadi landasan bagi perkembangan teori retorika dari zaman kuno hingga modern. Oleh karena itu, ini dianggap sebagai referensi utama dalam kajian seni persuasi. Seperti yang disampaikan oleh Gross, Walzer dan Alfred North Whitehead, mereka sepakat bahwa semua filsafat Barat merupakan kelanjutan dari pemikiran Plato dan bahwa teori retorika pada dasarnya merupakan respons terhadap masalah yang diangkat dalam karya Retorika Aristoteles.
“Un buen abrazo calma todo y un apretón de manos”
Jalan Paseban, RT.006 RW.000 Kelurahan Ngestiharjo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55182
0274 2250097 / +6287834929456
Senin - Jumat
09.00 - 16.00 WIB
office@lbhtentrem.or.id
lbh.tentrem@gmail.com